Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2017

Konsep Literasi dan Gerakan Literasi Sekolah


Hallo sobat, pada kali ini saya akan menginformasikan tentang apa itu Literasi. Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital dan auditor. Di abad 21 ini, kemampuan inilah yang disebut sebagai Literasi Informasi.

Menurut Ferguson (lihat: www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) menjabarkan komponen-komponen literasi informasi sebagai berikut:

Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah


Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan persepsi positif dalam menambah pengetahuan.

Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyimpan dan mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik. Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu disaring berdasarkan etika dan kepatutan.


Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga negara global (global citizen).
Dalam konteks Indonesia, kelima keterampilan tersebut perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik, alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills).

Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia dini berlanjut ke literasi dasar.

Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk memfasilitasi pengembangan komponen literasi peserta didik. Selain itu, diperlukan juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada komponen-komponen literasi ini.

Kesempatan peserta didik terpajan dengan kelima komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Sebagai langkah awal, dapat disimpulkan bahwa diperlukan perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan literasi ini.




sumber : Buku materi umum gerakan literasi sekolah

Read more »

Tujuan dan Prinsip: Gerakan Literasi Sekolah



Kembali lagi sobat, kali ini akan kita bahas tentang Tujuan dan Prinsip-prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Tujuan Umum :

Menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Tujuan Khusus :
  1. Menumbuh kembangkan budi pekerti.
  2. Membangun ekosistem literasi sekolah.
  3. Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization) (Senge, 1990).
  4. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management).
  5. Menjaga keberlanjutan budaya literasi.



Sasaran Gerakan Literasi Sekolah:
- Ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Prinsip-prinsip Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah
Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.  Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi.
2.  Program literasi yang baik bersifat berimbang
Sekolah yang menerapkan program literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca dan jenis teks yang bervariasi pula.
3.  Program literasi berlangsung di semua area kurikulum
Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.

 4. Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna
Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun kondisi di kelas memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau ‘membaca untuk ibu’ adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada peserta didik.

 5. Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting
Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan.

 6. Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah
Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar peserta didik dapat terpajan pada pengalaman multicultural sebanyak mungkin.

Demikian Sahabat Dunia Pendidikan mengenai Tujuan dan Prinsip Gerakan Literasi Sekolah yang dapat disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin




Read more »

Gerakan Literasi Sekolah

Pada abad ke-21 ini, kemampuan berliterasi peserta didik berkaitan erat dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.

Berdasarkan hal itulah, perlu dikemb4ngkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Pelaksanaan GLS melibatkan berbagai pihak di berbagai tingkatan mulai dari pemangku kepentingan di tingkat pusat, daerah, satuan pendidikan sampai masyarakat. Tiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaan GLS memiliki peran masing-masing. Penjelasan mengenai peran masing-masing pemangku kepentingan akan diposting pada artikel berikutnya.

Pada postingan berikutnya juga akan dijelaskan konsep, definisi, struktur koordinasi, strategi, gambaran umum tahapan kegiatan dalam GLS, serta monitoring dan evaluasi. Selain Desain Induk, ada juga Panduan Gerakan Literasi Sekolah untuk tiap jenjang pendidikan yang menjelaskan tahap-tahap pelaksanaan GLS.

Adapun strategi pelaksanaan GLS meliputi tiga hal, antara lain: 
  • Peningkatan kapasitas pemangku kepentingan yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan seperti: rapat koordinasi, lokakarya, sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat pusat (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sampai dengan tingkat daerah (LPMP, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota); 
  • Peningkatan kapasitas warga sekolah yang dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan kepala sekolah, guru, komite sekolah, pustakawan/ guru pustakawan, dan tenaga kependidikan; dan 
  • Penyediaan sarana dan prasarana yang diupayakan melalui penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran-yang-baik berdasarkan analisis kebutuhan di tingkat Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Satuan Pendidikan agar layanan yang diberikan satuan pendidikan idealnya dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan atau minimal memenuhi Standar Pelayanan Minimal. 

Untuk menjamin efektifitas pelaksanaan berbagai kegiatan dalam GLS, khususnya kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan kapasitas, diperlukan adanya Pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan secara berjenjang oleh semua pemangku kepentingan sesuai dengan perannya dalam strategi pelaksanaan literasi.

Adapun pihak terkait pelaksanaan monitoring dan evaluasi dalam kegiatan Gerakan Literasi Sekolah ini adalah :

Kemendikbud 
Melaksanakan monev tentang pelaksanaan program di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan. 

Dinas Pendidikan Provinsi 
Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di tingkat provinsi dan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. 

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota 
Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di tingkat provinsi, kabupaten/kota, satuan pendidikan, dan masyarakat. 

Satuan Pendidikan 
Melaksanakan monev hasil pelaksanaan program dan kegiatan literasi di sekolah masing-masing. 


Pelaksaan Monev kegiatan GLS di satuan pendidikan, menggunakan indikator pencapaian setiap tahapan, apabila satuan pendidikan telah memenuhi indikator pencapaian di satu tahapan, maka satuan pendidikan tersebut dapat melanjutkan ke tahapan selanjutnya.
Read more »